Tampilkan postingan dengan label Apoteker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apoteker. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Maret 2008

tiga "K"

Lagi-lagi masih sibuk dalam mempersiapkan pembukaan gerai baru apotek farmakita. Selain, persiapan hardware, dan software, ternyata persiapan brainware apotek baru pun sangat memakan banyak energi. Brainware suatu apotek adalah sang apoteker yang bertugas si dalamnya.


Ketika saya bertanya kepada Bu Kusmeni (Ketua PD-ISFI Jawa Barat) tentang kriteria brainware yang dibutuhkan oleh gerai2 baru yang akan berdiri, maka jawaban beliau adalah : 3K, yaitu komitmen, kemudian konsistensi, dan yang terakhir konsekuensi...

Yang penting komitmen dan memang berniat untuk mengabdikan diri di apotek. Karena habitat asli apoteker ya di apotek. Dengan sebuah komitmen yang tinggi, insya ALLAH yang dipikirkan hanyalah apa sih yang bisa saya perbuat? Tapi bukan apa sih yang bisa saya ambil dan dapatkan... Karena jika kita sudah bisa all-out, reward, atau penghargaan dari orang lain bukanlah tujuan utama...(to be continued)

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Minggu, 24 Februari 2008

Oleh - Oleh dari Pameran . . .




Alhamdulillah, saya (apotek farmakita) baru selesai mengikuti dua kali event Info Franchise Expo 2008, baik di Jakarta dan di Bandung. Berbagai macam pengalaman didapat disana. dari mulai pameran Jakarta : berangkat ke Semanggi - Jakarta sampai kesasar gak tau dimana, mencicipi berbagai macam makanan tester dari berbagai peserta pameran, nginep di hotel yang rada-rada unik, sampai pulang duluan dari ajang expo sebelum acara expo berakhir, demi mengejar calon mitra usaha yang minta lokasinya disurvey, dan Bandung : salah bawa backdrop waktu mempersiapkan stand malem-malem, Bandung dingin banget plus hujan segala, hari kedua expo yang betul-betul sepi, sampai tim support pameran yg menyenangkan.


Tapi ada satu pengalaman lain yang menurut saya lebih berharga dari pengalaman lain, yaitu menjadi frontliner pameran, berhadapan langsung dengan berbagai macam tipe pengunjung pameran. Dalam hal berbicara secara lisan, saya mengakui saya memiliki satu kekurangan, yaitu seringkali saya berbicara terlalu cepat. Justru tugas untuk menjadi penjaga gawang di stand pameran merupakan satu ajang melatih cara berbicara dan berkomunikasi yang baik. Dan memang menyenangkan, bisa berbicara dengan banyak orang yang memiliki beragam motivasi, latar belakang, dan rata-rata mereka orang-orang berduit (investor) yang siap membeli franchise dari para peserta pameran, sehingga terkadang mereka merasa dirinya lebih superior dibanding para penjaga stand.

Dari pengalaman menghadapi berbagai macam orang tersebut, saya berhasil mengelompokkan tipe-tipe pengunjung pameran yang pernah saya hadapi.

1.Tipe I
Tipe ini merupakan pengunjung teladan, dari sejak mengunjungi stand mereka sudah menganggap positif ide yang ditawarkan. Mereka bertanya karena ingin tahu, mereka mengkritik tetapi bukan untuk menjatuhkan, aura diskusinya pun aura positif, dan pembicaraan pun ditutup dengan pengisian form survey yang berarti mereka tertarik untuk bergabung dengan peluang bisnis yang ditawarkan, dilanjutkan dengan jabat tangan penuh kehangatan dan senyum. wahh...
2.Tipe II
Tipe ini merupakan pengunjung yang mmm, gimana ya? Sejak datang ke stand, yang ada hanya kritik-kritik pedas. Semua pertanyaan yang diajukan untuk menjawab pertanyaannya adalah salah. Tipe ini memang gak mau kalah dan pengen selalu dianggap benar. Kalau sudah begini, sebagai penjaga stand paling kita cuman angguk-angguk sambil memuji-muji masukan darinya. Dan kalau sudah begini, biasanya mereka mau juga ngisi form survey, karena selidik punya selidik, ternyata mereka pun tertarik dengan apa yang ditawarkan. Heheh jual mahal ni?
3.Tipe III
Tipe yang ini juga agak-agak menggelikan. Dari awal sampai akhir gelagatnya selalu tidak mengenakkan. Semua apa yang kita sampaikan tidak dia terima. Lha terus sebenarnya siapa sih yang punya bisnisnya? Kan sebenarnya penjaga standlah si pemilik bisnisnya. Dan ternyata setelah serangkaian kritik dan hinaan dilontarkan, dia mengeluarkan kartu namanya, dan ternyata hehehe... dia seorang konsultan. Dia bilang, kalau butuh bantuan konsultan bisnis, saya siap membantu. Ya elaah, jualan juga to ternyata.
4.Tipe IV
Tipe pengunjung yang menyenangkan. Semua diskusi yang digelar disambut dengan respon yang positif dan hangat. Full of smile, tapi sayang diakhir kunjungan, dia menyatakan bahwa di tidak berminat untuk bergabung dengan bisnis yang ditawarkan. Tapi nggak papa, walau tidak tertarik, setidaknya tetap kooperatif ya?
5.Tipe V
Tipe pengunjung yang betul-betul iseng. Pengunjung tipe ini memang tidak punya motivasi khusus untuk begabung dengan apa yang ditawarkan. Komentarnya pun asal, seperti, “Jadi kamu apoteker? Kok gak ada tampang?” hehehe, emang tampang apoteker gimana Bu? “Eh apoteker ya? kok masih muda-muda gini ya?”hehehe(lagi) emang gak boleh ya Bu, anak muda jadi apoteker? dan komentar-komentar iseng lainnya. Tapi bodor (lucu. red) lah, karena yang kaya gini ini memang kadangkala dibutuhkan untuk hiburan bagi yang sedang jaga stand...

Okay, sementar baru ada lima tipe, dan kayanya cukup untuk jadi semacam panduan untuk acara pameran selanjutnya. Karena baru mengikuti dua kali pameran, saya sudah bisa merasakan sensasi the passion of expo... yiihaaa !!! bayangkan saat para pengunjung mendatangi stand-mu dan bertanya-tanya seputar apa yang kamu tawarkan, kemudian mereka tertatik, dan berminat untuk bergabung. Sekali lagi terimakasih banyak untuk tim expo Bandung : Febbi, Achie, Nisa, Vivi, Manik, Fetri, kang Deden, pak Roni, mbak Vanya, dan tentunya Bu Kusmeni dan Pak Jahja...

Sudah dulu, karena tugas follow-up hasil pameran sudah menunggu. btw, kapan pameran lagi ni?

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Selasa, 19 Februari 2008

farmakita oh farmakita . . .




Waw…kesibukan demi kesibukan datang menghajar!! Jdugh, dzig, brukk, dag, dig, dug dhuerrr !!! dasat (baca : dahsyat). Lha terus kapan nge-blognya? Hehe . . .Maaf, terbawa suasana... kembali ke topik awal.

Apotek farmakita yang sedang saya kelola sekarang benar-benar mengalami transformasi yang tidak pernah terkira sebelumnya. Semenjak kami (PD-ISFI jabar) meng-hire seorang konsultan franchise yang bernama pak Jahja B. Soenarjo, pergerakan kami betul-betul di luar dugaan.

Perjalanan dari sejak peresmian farmakita (17 januari 2008) kemarin, hingga hari ini, memang betul-betul diluar dugaan. Proses untuk mengejar event yang bernama “peresmian” berlangsung dalam ritme kerja yang cukup menguras tenaga, waktu, biaya, dan pikiran. Persiapan interior+eksterior apotek (makasih untuk pak Hans dan tim Simplicity), pengadaan stok apotek, pemastian support system IT apotek (makasih buat Asri atas kerja kerasnya membangun sistem IT), perampungan website farmakita (http://www.farmakita.com), sampai kepada pemastian kostum pegawai apotek harus dikejar dalam jangka waktu satu bulan. Bisa nggak ya? Tapi alhamdulillah, bisa kok. Peresmian alhamdulillah berlangsung lancar, walau diiringi oleh mata yang berat menuntut haknya untuk beristirahat.

Peresmian selesai bukan berarti pekerjaan beres, karena setelah peresmian ini berarti pekerjaan besar : pengelolaan dan pengembangan usaha apotek ini harus mulai dijalani, dan itu bukan pekerjaan yang sedikit dan mudah. Wew… terlebih lagi, farmakita memiliki target pendirian gerai cabang sebanyak 25 gerai, baik di jawa barat, maupun di luar jawa barat dan apabila target pendirian gerai itu tercapai, akan dilanjutkan dengan pembangunan PBF – Pedagang Besar Farmasi, alias farmakita divisi distribusi. Kapan ya?


Apotek bisa benar-benar beroperasi kembali pada hari Ahad 3 Februari 2008, alhamdulillah. Lets back to business. Dagang lagi, ngawarung lagi… (padahal seminggu sebelum buka, sekitar 29 jan 08 – 2 feb 08 sempet tepar teu pararuguh, pusing, demam, diare, lemes, gak doyan makan). Dan pergerakan omset apotek, harus dimulai dari awal lagi (sebelum renovasi rata-rata omset harian sudah menyentuh angka 600rb-700rb/hari, tetapi setelah renovasi dan peresmian, kembali mundur ke angka 200rb-400rb). Mungkin karena selama renovasi, apotek tutup cukup lama sekita 1,5 bulan, sehingga banyak pelanggan yang mengira kami sudah bangkrut ya? Wallahu a’lam… tetap semangat aja.

Setelah apotek buka, kami memutuskan untuk ikut sebagai peserta pameran franchise di Semanggi Expo Jakarta ( 8 – 10 februari 2008), kebetulan saya yang ditugasi untuk menjaga gawang di pameran, dengan bantuan beberapa rekan yang luar biasa : pa roni, febbi, nisa, yeni, dan vivi. Dan Indra sebagai apoteker pendamping farmakita, ditugasi untuk menjaga gawang di apotek, alias stand by di Bandung dan memastikan roda apotek berjalan sebagaimana mestinya.

Sekali lagi alhamdulillah, walau persiapan kami sangat mendadak, peralatan pameran kami kalah jauh dari persiapan pameran apotek kompetitor, respon dari peserta pameran terhadap farmakita cukup baik. Tercatat 88 orang yang bersedia mampir dan mengobrol dengan kami tentang makhluk apakah farmakita itu. Dan hasil dari pameran, akan ada seorang investor dari Cileungsi yang bersedia menanamkan uangnya di farmakita. Target 3 bulan kedepan , sekitar bulan Mei, gerai farmakita cabang Cileungsi siap beroperasi. Wew… belum lagi investor – investor lain yang ternyata sudah menunggu giliran untuk bekerjasama dengan pihak korporasi farmakita. Belum lagi pemilik modal yang berasal dari Surabaya, atau bahkan Makassar… btw, kapan nih jalan-jalan ke makassar? (nampak menarik)

Jum’at besok insyaAllah kami ikut pameran lagi, tapi kali ini di bandung (graha manggala siliwangi) antara 22 – 24 februari 2008, jadi mudah-mudahan kami bisa lebih menguasai keadaan. Persiapan harus lebih matang, briefing harus lebih intensif. Yuk ah, masih banyak pekerjaan yang harus disiapkan kemudian dirampungkan. Wallahu a’lam..

Gak sengaja didapat dari sebuah lembar Jum’at yang dibagikan ketika sedang sholat Jum’at… ada sebuah hadits Rasulullah SAW (sayang tidak dijelaskan siapa yang meriwayatkan) yang berbunyi kurang lebih, “apabila kamu meminta kepada Allah wahai manusia, maka mintalah disertai dengan keyakinan bahwa Allah Mahakuasa mengabulkan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan do’a seseorang yang hatinya itu ragu.”

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Rabu, 12 Desember 2007

Niat ini Baik..!!!

"Sudahlah, kalian semua jangan ragu untuk menjalankan ini semua
saya yakin rencana ini bakal sukses
kenapa saya begitu yakin?
Ya, karena rencana ini adalah sebuah niat baik
semua yang ada dalam rencana ini adalah hal-hal baik...
Sekarang sudah bukan lagi saatnya untuk mundur..."

Begitulah kira-kira bu Kusmeni berkata kepada kami berkaitan dengan proses launching apotek farmakita


maaf gak ada tulisan tambahan :D

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Rabu, 05 Desember 2007

Snapshot Apotek . . .

snapshot:
C : "Mas ada canesten? atau fungiderm? saya kalau makan telor atau ayam suka gatal-gatal. Pakai canesten atau fungiderm bisa kan?"
P : "Waduh mas, itu sih gejala alergi, sedangkan canesten atau fungiderm itu obat anti-jamur, obatnya gak cocok mas."
C : "udah lah Canesten aja, katanya sih bisa."
P : "(bisa??kata siapa mas??-dalam hati-)Tapi gak cocok lho mas,obatnya bukan itu."
C : "udah lah canesten aja, yang ukuran kecil aja deh !!"


keterangan:
C = customer
P = pharmacist

komentar:
Euuhh... katanya nanya, eeehh udah dikasihtau yang bener, tetep keukeuh...
sebull!!! Tenang-tenang, konsumen adalah raja... tugasku adalah memberitahu semaksimal mungkin.

kesimpulan:
Ahhh... ternyata masih menyisakan jalan panjang penuh duri menuju eksistensi profesi apoteker/pharmacist di indonesia.

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Jumat, 16 November 2007

Apotek Gratis... kapan ya??

Iseng mengetikkan kata "Apotek Gratis" di google
eh ternyata hasilnya :


Yah mudah-mudahan mimpi itu bisa terwujud... berawal dari cita-cita, mimpi, asal konsisten aja, siapa tahu bisa benar-benar terwujud.

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Rabu, 14 November 2007

catatan kecil dari apotek . . .

kejadian satu :
Tadi sore (11 November 2007 sekitar pukul 18.00), ada seorang bapak beserta istrinya belanja ke apotek. Beliau bermobil, dan tentu saja terlihat sebagai orang yang sangat-sangat "berada". Belanjanya, saya masih ingat : Curcuma Emultion, Supramox syrup, Lafalos cream, alloris tablet. Ditotal jendral ada sekitar 45500 rupiah. Semua berjalan normal. Sampai pada tahap pembayaran dan sang Bapak meminta kwitansi pembayaran, saya buatkan kwitansi seadanya sesuai dengan jumlah transaksi. Setelah sang Bapak keluar apotek, dia balik lagi tuh... ternyata eh ternyata ada request khusus berhubungan dengan kwitansi yang saya berikan tadi. Request beliau : mohon di kuitansi ditulis rincian belanjanya, tapi yang ditulis cuman Curcuma emultion dan Supramox. Yang lain jangan ditulis ya? Tulis juga kalau resep obat itu dikeluarkan oleh dr.Kelly, supaya bisa minta klaim ganti obat ke perusahaan, tapi jumlahnya tetap 45500 ya?. Dalam hati, saya berpikir, "wah korupsi kecil-kecilan nih Pak?"

A (Aldi) : "Maaf Pak, untuk penulisan kwitansi, harus ditulis semuanya, atau minimal harga yang ditulis harus sesuai dengan harga obat yang dibeli."
B (Bapak) : "Loh kok gak bisa? Kaku banget sih apotek ini? Apotek lain aja bisa kok. Aneh apotek ini. "

A : "Iya Pak, memang seperti itu aturannya, apotek ini sudah punya aturan baku. Saya hanya menjalankan aturan, takutnya urusan dengan atasan saya bakal susah Pak."
B : "Kaku banget sih, ya sudah deh, terserah Anda saja...(sambil memperlihatkan muka kesal plus sedikit senyum kecut)"
A : "Maaf ya Pak?"
Sang Bapak langsung berjalan keluar apotek sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum kecut kepada istrinya.

Saya juga cuman bisa tersenyum kecut (walau tetap manis). Coba kita telaah kata-kata saya kepada bapak tadi :
"Iya Pak, memang seperti itu aturannya, apotek ini sudah punya aturan baku. Saya hanya menjalankan aturan, takutnya urusan dengan atasan saya bakal susah Pak."

Sebenarnya yang dimaksud dengan "aturan" adalah Islam, karena Islam memang melarang ummatnya untuk berbohong.
Yang dimaksud "Saya hanya menjalankan aturan" adalah karena saya adalah seorang Muslim, jadi tugas saya adalah menjalankan apa yang telah diatur oleh Islam.
Yang dimaksud "takutnya urusan dengan atasan saya bakal susah", ya karena kalau berbohong, urusan saya dengan Allah SWT kelak bakal susah, bukan atasan-atasan yang lain, Lha wong apotek ini kan saya Apotekernya.

Terlihat simpel, sepele, tapi tetap saja berbohong. . .


kejadian dua (masih 11 November 2007, malam sekitar pukul 20.00) :

B (Bapak) : ada obat asam urat merek X? (lagi-lagi seorang bapak bermobil mewah datang)
A (Aldi) : waduh maaf Pak, untuk merek itu sih kita belum ada, nanti kami sediakan deh . . .
B : waduh, kalau obat anti sakit untuk asam urat? Yang bagus apa ya?
A : ohh pakai merek ini aja Pak, harga per tabletnya segini... bagus kok
B : oh gitu ya? bisa beli ngeteng nggak? gak harus satu strip ?
A : boleh Pak, beli 4 dulu aja, jangan lupa sehari maksimal 3 tablet, dan harus diminum setelah makan, karena kalau diminum saat perut kosong, sering terjadi perih di lambung.
B : Oh gitu ya? Siap deh... Eh numpang tanya, di sini ada Esilgan ? (Salah satu merek obat psikotropika dengan kandungan Estazolam, red.)
A : Waduh belum punya juga tuh Pak, lagian obat itu harus dibeli dengan resep, tidak dijual bebas
B : Iya saya tahu, dulu waktu apotek ini belum berganti pemilik, kalau saya mengeluh susah tidur, suka dikasih Esilgan sama yang jaga apoteknya, bahkan ditawari untuk beli satu Box. Disini bisa? Nanti kalau bisa kabari saya ya?
A : waduh Pak, tidak bisa begitu, lagian kalau memang saya keluarkan obat Esilgan satu box, bakal ribet dalam hal pelaporan ke dinas kesehatan, dan memang undang-undangnya seperti itu... (dalam hati, waduh kalo memang betul-betul kejar omset, kasih aja si Bapak ini Esilgan satu box, tapi kan profesi apoteker ini ada kode etiknya, jualan di apotek itu bukan hanya kejar omset, inget sumpah apoteker dulu)

Kesimpulan :
Waduh Gawat, berarti dulunya apotek ini benar-benar GILA!!! Masak nawarin psikotropika se-box ke pelanggan? Beli se-box dengan resep dokter pun harus betul-betul konfirmasi ke dokter yang meresepkan, terus bagaimana nasibnya memberikan se-box tanpa resep?

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Kamis, 08 November 2007

Mission Impossible 3 : Kesehatan dan Pendidikan GRATIS !!!

Salah seorang senior pernah berkata,"Memang membiasakan orang untuk memperoleh yang gratis itu kurang baik. Namanya tidak mendidik, karena dengan gratis akan menjadikan seseorang tidak berusaha lebih untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya."

Hmm... setelah dipikir-pikir ada benarnya juga pendapat beliau. memberi gratis mirip-mirip dengan konsep membantu seseorang dengan memberi ikan bukan kailnya. Padahal alangkah baiknya apabila menolong orang dengan konsep memberi kail bukan ikannya secara langsung. Setuju !!! Sepakat !!! Dukung lah Dukung !!!

Tapi saya memiliki pandangan lain tentang gratis ini. Memang apabila segala hal digratiskan, maka hidup tidak akan seru lagi. Tidak ada yang namanya tantangan, keinginan berkembang, semangat berkompetisi secara positif, bahkan hidup ini bakalan sangat-sangat linier. Nggak seru... tapi tidak lantas mengubah pandangan saya bahwa semua yang gratis itu tidak mendidik. Ada beberapa perihal yang apabila digratiskan (dengan beberapa syarat tentunya) maka akan menjadikan negeri ini lebih baik berkembang.

Yang pertama : pendidikan, yang kedua : kesehatan. Kenapa? Karena pendidikan dan kesehatan merupakan dua pilar pokok kondisi kesejahteraan suatu masyarakat. Apabila seluruh lapisan masyarakat memperoleh pendidikan dan fasilias kesehatan yang baik, maka insyaALLAH negeri ini akan bergerak bergeser ke arah yang jauh lebih baik. Jangan sampai pendidikan dan kesehatan yang baik menjadi milik orang-orang berada, sehingga orang-orang yang memang memiliki kekurangan dari segi harta akan tersisihkan. Yang berkuasa adalah yang memiliki modal, sedangkan non-pemilik modal akan tenggelam perlahan-lahan.

Saya tidak terlalu mengerti tentang seluk-beluk dunia pendidikan, maka yang akan saya perdalam adalah permasalahan kesehatan masyarakat. Dan karena profesi saya adalah apoteker/pharmacist, maka sektor obat-obatanlah yang secara spesifik akan saya perdalam.

Sebelum melangkah lebih jauh, sekedar intermezzo : sebenarnya gratis yang seperti apa? Dan kenapa bisa gratis? Tentu gratis yang terarah, tidak asal gratis, dan gratis tersebut harus dengan beberapa syarat yang terpenuhi. Sebenarnya semua ini berawal dari konsep subsidi. Bahkan di dalam Islam pun konsep zakat dengan baitul maal-nya sarat dengan konsep subsidi. Seseorang yang memiliki kelebihan diwajibkan menyisihkan hartanya untuk baitul maal, sehingga para pengurus baitul maal akan menggunakan harta yang terkumpul untuk kepentingan negara dan rakyat. Saling subsidi. Sehingga tidak ada yang merasa kekurangan. Bahkan jika mendengar kisah zaman khalifah Umar bin Abdul-Aziz, para petugas baitul maal begitu kebingungan mencari orang yang pantas untuk disubsidi (pantas dizakati), karena seluruh anggota masyarakat adalah pemberi subsidi (wajib zakat). Lain dulu lain sekarang. Kalau dulu orang-orang malu jika ternyata dirinya masuk ke dalam golongan yang pantas dizakati, maka sekarang ketika malam 1 Syawal, orang-orang berebut untuk mendapatkan jatah zakat fitrah. Bisa dikatakan, salah satu faktor pembentuk kondisi mental seperti ini adalah sistem pendidikan yang kurang baik.

Bayangkan, lagi-lagi ini negeri utopia versi saya, bila fasilitas pendidikan dan kesehatan sudah tidak menyulitkan masyarakat kita, tentu anggota masyarakat akan lebih fokus kepada hal-hal lain yang lebih produktif yang belum sempat terpikirkan saat ini. Perkembangan pengetahuan, ilmu dan teknologi yang dibarengi oleh kematangan kualitas akhlaq individu dari masing-masing anggota masyarakat. Berawal dari konsep subsidi berbasis zakat, maka terbentuklah sebuah masyarakat modern, bahkan menjadi pusat peradaban dunia seperti pada zaman Daulah Abbasiah di Baghdad dulu.

Ayo... ada yang mau bergerak -minimal berpikir- bersama-sama dengan saya? Sebenarnya sistem subsidi kesehatan -terutama distribusi obat- yang cocok bagi seluruh lapisan masyarakat itu seperti apa? Sehingga bagaimanapun kondisi keuangan seseorang, apabila suatu saat orang itu sakit, maka ia akan tetap memperoleh obat dengan kualitas yang baik, kalau perlu GRATIS.

CMIIW - Correct me if I'm Wrong - feel free to comment :)

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Rabu, 31 Oktober 2007

Ketika kesehatan seseorang dibisniskan

Saya teringat dengan salah satu slogan terpopuler pada mata pelajaran ekonomi pada saat saya masih duduk di bangku SMP. Slogan itu bernama “prinsip ekonomi” dan isinya kurang lebih : dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Walau terkesan sangat teoritis, tapi memang itulah prinsip paling prinsip dari ekonomi. Seorang pengusaha yang sukses tentu selalu berusaha mencari celah agar usaha yang dilakoninya hanya membutuhkan modal sesedikit mungkin dengan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Ya, dengan usaha yang optimal, tentu hasil itu tidak mustahil untuk diraih. Tapi tidak jarang pula untuk mencapai target keuntungan tersebut, segelintir orang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Menjadi pengusaha memang harus juga memiliki modal akhlak yang baik. Karena kalau tidak, bisa-bisa usahanya untung, tapi secara akhlak rugi besar.
Saya adalah seorang apoteker. Tidak bisa disangkal lagi, apoteker adalah salah satu profesi yang berhubungan langsung dengan dunia kesehatan karena “mainan” apoteker adalah obat. Apoteker adalah seorang drug expert walau mungkin saya belum bisa dikategorikan sebagai seorang ahli obat. Tapi memang benar, seharusnya hanya apotekerlah orang yang betul-betul memahami dan bertanggungjawab tentang seluk beluk obat, mulai dari bahan baku pembuatnya,proses manufakturing obat, kontrol mutu obat, distribusi obat,penjualan obat, hingga pemantauan ketepatan pemakaian obat oleh pasien. Seperti profesi-profesi kesehatan lain, basis pelayanan apoteker adalah basis pengabdian kepada masyarakat, karena kesehatan adalah hak siapa pun tidak peduli orang tersebut kaya-miskin, tua-muda.

Ada yang menarik dengan profesi apoteker ini. Karena cakupannya luas, maka kecenderungan keilmuan farmasi dibagi menjadi dua. Pertama adalah teknologi farmasi yang arahnya lebih ke bidang manufaktur, penelitian obat baru, dan pengontrolan kualitas. Dan kedua adalah farmasi komunitas yang arahnya lebih kepada pelayanan kesehatan dan informasi obat kepada masyarakat. Obat adalah suatu komoditas yang tidak pernah surut. Sepanjang manusia masih mengenal istilah “sakit” maka obat akan tetap diproduksi dan didistribusikan. Dengan peluang seperti itu, maka banyak muncul pengusaha-pengusaha obat. Baik pengusaha urusan teknologi disini adalah para pemilik industri farmasi, maupun pengusaha urusan komunitas disini adalah para pemilik apotek maupun rumah sakit. Selama masih ada orang yang sakit, selama itu pula lah bisnis mereka berjalan. Bisnis farmasi. Suatu pelayanan yang seharusnya didasari oleh semangat pengabdian kepada masyarakat, sudah bergeser kepada semangat bisnis, meraup keuntungan sebesar-besarnya bahkan tidak sedikit mereka-mereka pebisnis farmasi yang mulai lupa dengan tujuan dasar pelayanan farmasi, yaitu membantu menyembuhkan penyakit si sakit dengan menggunakan obat yang berkualitas.
Akibat dari pergeseran fungsi pelayanan farmasi dari pengabdian masyarakat kepada bisnis farmasi, maka akhirnya dikhawatirkan pengusaha obat semakin meraup untung sedangkan masyarakat semakin mendapat buntung, karena dijatuhi pilihan obat berkualitas tapi mahal atau obat murah meriah tapi kualitas dipertanyakan.

Saya coba berandai-andai. Seandainya kualitas sistem kesehatan di negara kita sudah sangat baik dan didukung oleh personel-personel yang baik pula. Seandainya orientasi farmasi baik teknologi farmasi maupun farmasi komunitas adalah orientasi pengabdian masyarakat, tanpa tercampuri itikad bisnis sama sekali. Mengapa bisa murni tanpa pengaruh bisnis? Karena sistem kesehatan ini sepenuhnya disokong oleh dana dari pemerintah. Terbayang pada kondisi itu, seluruh dokter dan apoteker dibayar dan didanai oleh pemerintah. Apotek bukan tempat untuk berbisnis obat, tapi apotek benar-benar menjadi tempat pengabdian profesi bagi seorang apoteker. Apoteker mendapat honor bukan dari hasil berjualan obat, tetapi apoteker adalah petugas pemerintah yang memang dibayar secara memuaskan untuk memastikan kualitas obat maupun kualitas penggunaan obat oleh pasien benar-benar baik dan memuaskan. Pun dokter mendapatkan bayaran yang sangat memuaskan dari pemerintah, sehingga tidak ada lagi mafia entertain dokter yang dilakukan oleh medical representive sebagai utusan produsen obat. Entertain dokter, memang tidak semuanya buruk, tapi bagi saya sistem ini adalah sebuah keburukan yang memang sudah menjadi rahasia umum, dimana seorang dokter diiming-imingi hadiah tertentu dari produsen obat, agar obat produksinya diresepkan oleh dokter yang bersangkutan, sehingga target penjualan dari produsen obat tersebut dapat tercapai. Tidak ada yang salah jika obat tersebut memang diresepkan terhadap pasien yang betul-betul membutuhkannya. Yang berbahaya adalah, jika demi mengejar target penjualan, maka obat tersebut diresepkan terhadap pasien manapun baik yang membutuhkan maupun yang tidak membutuhkan obat tersebut. Lagi-lagi pasien yang menjadi korban.

Sehingga seluruh apotek yang berdiri adalah apotek milik pemerintah, sehingga di apotek manapun kita memperoleh obat, (apapun jenis obat yang kita butuhkan) akan mendapatkan kualitas obat yang sama dengan cara memperoleh yang sama-sama mudah, dan mutu yang terjamin, karena ada apoteker di apotek tersebut yang menjamin kualitas dan cara pemakaian obat tersebut. Sehingga obat adalah komoditas yang betul-betul didistribusikan bagi kepentingan masyarakat, dan tidak dibisniskan.
Mungkin pemikiran yang agak aneh bagi beberapa orang. Tapi menurut saya, logis kok kalau seorang praktisi kesehatan seperti saya memiliki impian, negeri utopisnya sendiri. Ada yang mau bersama-sama bergabung dengan saya? Minimal saling bertukar cerita etentang negeri utopia-nya . . .

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Kamis, 16 Agustus 2007

Mari Jadi Orang-Orang yang Tidak Biasa

Belakangan ini, berbagai macam bayangan akan rencana-rencana besar di masa yang akan datang, selalu datang membayang. Allah SWT hanya memberi manusia satu kali jatah hidup. Lantas, kenapa dalam hidup yang hanya sekali itu, manusia mau menjalaninya dengan jalan hidup yang biasa-biasa saja??

Sekolah, Kuliah, Kerja, Nikah, Punya Anak, Pensiun, Menikmati hari tua bersama keluarga, Mati... Nampak sangat-sangat biasa ya? Sangat banyak orang yang menjalani hidup seperti itu. Dan tentu saya nggak mau sama dengan orang lain. Saya mau beda...

Hidup ini bukan cuma untuk jadi yang "ordinary" saja...orang-orang luar biasa yang tercatat dalam sejarah juga memiliki hidup yang luar biasa...hidup mereka tidak sama dengan kehidupan orang lain disekitarnya... because of that, i don't want to be just an ordinary people...

Rencana besar... mulai dari mana ya??
Jadi kerangka berpikirnya seperti ini... Saya apoteker. Saya punya hutang untuk mengamalkan ilmu farmasi kepada orang-orang di sekitar saya berada. Informasi tentang cara menggunakan obat yang benar kepada mereka. Itu mutlak. Seperti halnya profesi-profesi lain (dokter, pengacara, akuntan, arsitek, dll), banyak yg berpendapat, kita harus mendapatkan "uang" jasa profesi atas apa yang telah kita lakukan kepada orang lain. Pasti ada harapan besar di tiap benak para apoteker, suatu saat nanti di Indonesia, jika seseorang bertanya sesuatu tentang obat kepada seorang apoteker, maka orang tersebut wajib membayar sejumlah uang kepada apoteker atas informasi yang telah didapatkannya. Yup apoteker dibayar karena telah memberi informasi kepada seseorang berkaitan dengan obat.

Tapi saya tidak setuju dengan konsep itu. Apoteker memang profesi. Dan karena profesi ini berkaitan dengan kesehatan, maka harusnya apoteker itu profesi sosial. Sehat adalah hak semua orang. Terus terang, saya tidak tega kalau harus meminta uang kepada seseorang yang sedang sakit hanya karena saya memberitahu sesuatu berkaitan dengan obat kepada orang itu. Informasi kesehatan khususnya obat memang apoteker ahlinya. Tapi informasi itu kan milik semua orang, dan semua orang harus tahu. Yup suatu saat nanti, saya harus memiliki sarana kesehatan gratis... semua orang boleh mengaksesnya, silahkan gratis !!! Semua orang harus sehat !!! Dan insya4JJI ilmu yang saya miliki bisa dinikmati oleh semua orang.

Tentu tidak mudah, tapi juga tentu tidak mustahil. Nah berhubung apa yang akan saya siapkan adalah sesuatu yang gratis, maka harus ada sokongan dana cukup besar untuk mewujudkannya. Cari dana dari sekedar bekerja di apotek sebagai Apoteker Pengelola Apotek?? Mau kejar omset berapapun sepertinya tidak cukup untuk sumber dana awal embrio sarana kesehatan gratis. Menurut istilah yang sudah sangat kesohor yang dicetuskan oleh Robert Kiyosaki, apoteker adalah self-employed... kamu adalah sistem, karena idealnya, apotek tidak boleh buka kalo gak ada apotekernya. Dan sebagai self-employed, mesin penghasil uang tidak bisa maksimal. Uang bisa lebih lancar mengalir jika posisi kita sudah bergeser ke quadrant entrepreneur. Oleh karena itu, sekarang saya sedang berusaha membangun "sesuatu" yang bisa membantu saya mengumpulkan dana lebih banyak lagi.

Biarlah, insya4JJI saya ridha jika hampir setiap hari (bahkan jam 22.00 sekalipun) saya harus bermotor-ria dari sekitaran holis (apotek) ke daerah sarijadi (base camp fleur !!). Inilah seninya, dan saya harus lebih banyak belajar tentang manajemen waktu. Insya4JJI ketika ada suatu cita-cita yang memang benar-benar ingin kita capai, akan selalu ada kekuatan yang bisa mendorong kita menuju ke sana.

Mewujudkan sarana kesehatan gratis, Jika ditarik akar permasalahannya adalah hanya untuk sekedar mencari ridha-Nya, mencari cinta-Nya...karena ilmu mau bagaimanapun harus diamalkan, dan ilmu yg bermanfaat adalah salah satu amalan yang tidak pernah putus, walau kita telah mati. Subhanallah. Allahu Akbar !!!

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (Q.S. Al-Bayyinah : 7-8)

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Rabu, 25 Juli 2007

Apotek GRATISS

Pernah dengar rumah bersalin gratis? Atau ambulan gratis? Atau operasi hernia gratis? Dulu memang terdengar tidak mungkin. Bahkan sekarang pun, masih banyak orang yang mengatakan bahwa sesuatu yang gratis itu mustahil. Kenapa rumah bersalin atau ambulan itu digratiskan? Jawabannya simpel. Semua itu adalah sarana kesehatan. Dan secara simpel bisa dikatakan bahwa sarana kesehatan digunakan untuk melaksanakan upaya kesehatan (jadi inget kuliah Farmasi Rumah Sakit dulu...) guna memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Kesehatan adalah hak setiap orang baik orang itu mampu maupun tidak mampu. Lantas, timbul ide untuk mengadakan sarana kesehatan gratis yang diperuntukkan bagi sudara-saudara kita yang memang kurang mampu.

Sekarang kita beralih ke apotek. Apakah apotek sarana kesehatan? Yup sudah barang tentu. Di dalam apotek dilakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung proses peningkatan dan proses pemeliharaan kesehatan masyarakat. Sudah pernah adakah yang punya ide untuk membangun apotek gratis? Tentu gratis untuk kalangan tertentu, bukan gratis begitu saja. Mungkin banyak orang yang berpendapat apotek gratis = gila. Dimana orang lain berbondong-bondong merencanakan bisnis apotek, kok saya malah mengusulkan konsep apotek gratis. Ya namanya juga mimpi... cita-cita. Di apotek gratis inilah pengabdian profesi apoteker benar-benar diuji. Karena apotek gratis bukan ajang untuk mencari uang dari profesi. Profesi apoteker beda dengan profesi akuntan atau arsitek, karena profesi apoteker ini profesi kesehatan. Jadi boleh dong suatu saat nanti saya yang apoteker ini benar-benar mengabdikan profesi saya kepada orang-orang yang memang membutuhkan "sehat".

Bisnis obat memang cukup bisa diandalkan untuk menambah tebal kantong. Tapi bisnis obat yang seperti apa? Trend harga bahan baku obat semakin meningkat. Padahal harga obat terutama generik semakin diturunkan. Supaya bisa lebih memperoleh untung dari penjualan, dicarilah celah-celah abu-abu bisnis obat. Belanja obat palsu dari pasar-pasar tertentu bisa dilakukan, dan jelas harga beli obatnya sangat-sangat miring. Atau trik terbaru, pedagang obat memborong obat rakyat yang harganya notabene 1000/strip, terus obat tersebut dilucuti dari kemasannya, untuk dikemas ulang oleh apotek terkait, dan dijual dengan harga yang tidak seribu lagi. Ada yang mau share trik lainnya? Wah orang sakit kok disakitin??

Pantas saja orang Indonesia nggak sehat-sehat. Oleh sebab itu, saya memandang apotek itu pure sarana pengabdian profesi, bukan ajang bisnis. Saya orangnya nggak tegaan. Kalau di apotek menghadapi pasien kurang mampu dan harga obat yang harus ia beli cukup mahal, kadang hati ini jadi trenyuh sendiri. Makanya, suatu saat nanti, tunggu saya untuk buka Apotek gratis... Ada yang seide dengan saya?? Saya serius lho...

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)