Rabu, 23 April 2008

Countdown

Hitung mundur menuju perubahan dalam hidup sudah dimulai...

silahkan klik disini



Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Selasa, 22 April 2008

rindu lama tak jumpa

Rindu lama tak jumpa
Dengan cicit merdu burung senja
Yang riang menghabiskan waktu
Membagikan ceria dengan cuma-cuma

Sudah lama pula tidak membalas sapa
Lambaian ramah pelepah daun pisang
Melambai lembut gemulai
Mengajak menari siapapun yang melintas

Atau menikmati merdunya dendang sungai kenangan
Menggemericik menggelitik
Melahirkan ensambel bebatuan tertumbuk air
Sahut menyahut menggiring angin

Kapan lagi bisa duduk bersama si pinus
Termenung saling merangkul menghadap ufuk barat
Menjaga ketenangan senja jingga hutan cemara
Melambaikan tangan tanda berpisah dengan matahari


Mungkin esok bisa sedikit meluangkan waktu
Atau mudah-mudahan lusa ada sedikit luang
Berbagi kisah, membagi kisah
Berkumpul dimalam hitam mengelilingi api unggun
Menghangatkan badan, mengusir dingin
Saling berpelukan hangat dengan alam
Bersama Burung senja, pelepah daun pisang,
Sungai kenangan, dan si pinus

Bersama mengagungkan namaMu

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

rindu dengan malam

beberapa hari ini
semakin sering kuterjaga
sampai hari berganti pagi
menikmati sunyi malam hari
membagi hati dengan sang bintang

ayo coba angkat tanganmu
goyangkan kekiri dan kekanan
ikuti nyayian sunyi dewi malam
meniup lembut seruling dedaunan
menggembala bumi agar terus berputar

wahai kawan
ayo coba bangun, kemaslah barang-barangmu
tanggalkan selimutmu, rapikan bajumu
ayo bersama kita nikmati sunyi malam
jauhkan diri dari hiruk pikuk siang

lihatlah, serangga malam sudah berarak beriring
siap menyambut kedatangan kita
ribuan kunang-kunang siap hadir
menyediakan lentera cadangan
menerangi jalan kita menembus gelap malam


tenang kawan, kita tidak akan pergi jauh
hanya sampai pekarangan belakang
tapi bersiaplah untuk terkejut
dengan kepiawaian sang malam mengubah
dan menghidupkan bumi dengan selimut sepinya

seandainya malam ini bisa berlalu lebih lama
tentu akan kuhabiskan waktu untuk menghitung bintang
menyapa ranting-ranting bambu yang ikut menggumam
atau bergelantungan di ujung runcing bulan sabit
sambil banyak menuai kenangan manis bersama ibu, bapak dan adik-adikku

tapi malam akan segera berlalu
binatang malam sudah mulai sibuk kembali ke sarang
matahari sudah terlihat tak sabar menunggu giliran
memanggil bulan untuk segera pulang
kapal-kapal nelayan pun sudah mulai merubah haluan

ayo kembali kemasi barang-barangmu
kembali masuk ke kamar tidur hangatmu
ucapkan selamat tinggal pada kunang-kunang
jangan lupa berpamitan pada dewi malam
sampaikan rindumu, agar kelak dia pun merindukanmu

kan kutunggu malam-malam indah berikutnya
dimana bisa kuleluasa menikmati sunyi senyap ini
meninggalkan semua kegelisahan siang
hanya aku dan langit kelam juga bintang dan bulan sabit centil
yang hanya ingin bermain menikmati sepi, menikmati sunyi

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Sabtu, 19 April 2008

hitam::jingga milikMu

00:34, jum’at, 18 April 2008, sunyi

Hanya jelas detak jarum detik dari dua buah jam dinding saling menyahut
Saat sunyi, memang hanya Engkau yang patut kupuji
Saat ramai esok siang, jika memang Engkau mengizinkan aku menghirup udara esok siang
Pun memang hanya Engkau yang patut kuagungkan

Malam menjelang pagi ini, mendadak hati merasa pedih sedikit teriris
Betapa sudah lamanya hati ini kering, jauh dari siraman cahaya-Mu
Tak terasa kening ini menyentuh sajadah kumal yang sudah bertahun-tahun aku gunakan
Seluruh beban berat, kukembalikan kepadaMu, melalui sujudku ini
Ya Allah, terimalah sujudku ini, iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iin


Ya Allah, izinkan aku memohon ampunanmu
Membasuh segala dosa kejiku, aku tak layak
Tapi memang hanya Engkau yang Maha Mengampuni
Sudah terlalu banyak karunia, ni’mat, kemudahan
Yang Kau hadiahkan padaku
Tapi sangatlah jarang hati ini mengabdi padaMu
Sangatlah jarang, ikhlash hanya karena-Mu
menjadi satu-satunya alasanku untuk melakukan sesuatu

Sudah lama aku merindukan keheningan sesenyap ini
Izinkan aku menikmatinya, mendekatkan hati ini kepada-Mu
Menyebut nama-Mu sebagai nyanyian pengantar tidurku
Ya Allah, luruskan niatku
Inna shalaati wanusuki wamahyaaya wamamaati
Lillaahi rabbil ‘aalamiin

Ya Allah, janganlah Engkau jauhkan jalanku dari jalan-Mu
Mudahkanlah jalanku menuju jalan-Mu
Teguhkanlah hatiku untuk hidup dalam lindungan pedoman-Mu
Kuatkan aku untuk menghadapi dunia yang penuh senda gurau ini
Kokohkan kakiku menghunjam bumi-Mu untuk mempertahankan kemuliaan Islam-Mu
Kuatkan tanganku agar dapat lebih banyak berbuat hanya karena-Mu

Ya Allah, ampuni aku
Astaghfirullaahalladzii laa ilaaha illahuwal hayyul qayyuum
Wa atuubu ilaika


Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Selasa, 08 April 2008

undangan - undangan itu . . .

“Di, masak desain sekeren itu kamu jual murah?” begitulah seloroh seorang rekan mengomentari desain kartu undangan yang alhamdulillah selesai saya kerjakan dan saya jual dengan harga sangat-sangat murah kepada seorang kawan. “Emang kenapa gitu? Toh saya juga ngejualnya ke temen sendiri…” begitulah kira-kira jawaban saya sekenanya.



Ada kepuasan tersendiri diluar bayaran uang ketika kita berhasil mengerjakan suatu pekerjaan, dan berhasil membuat senang hati orang lain. Toh nggak selamanya semua bisa dibayar dengan uang. There’s something that money can’t buy. Persahabatan jauh lebih berharga dibandingkan uang. Dan karena niat awal ketika membuat undangan adalah menolong sahabat yang ingin melangsungkan pernikahan, maka memang bukan bayaran uanglah yang saya cari. Kalau toh memang ada uang tambahan dari pekerjaan mendesain kartu, ya alhamdulillah. Dan entah kenapa, akhir-akhir ini mendadak pesanan kartu undangan membanjiri laptop saya. Mungkin (mudah-mudahan) karena desain undangan yang saya kerjakan bisa diterima oleh orang lain, atau mungkin karena bulan-bulan ini adalah bulan musim nikah, terutama buat beberapa kawan dekat, wallahua’lam.

Tapi maaf kawan, jika biaya undangan yang saya desain tersebut terlihat mahal, karena memang biaya produksi kartu undangan tersebut lumayan tinggi, apalagi dengan kuantitas pemesanan dibawah 1000 lembar. Kalau kasusnya sudah begini, mau bagaimana lagi? Saya hanya bisa berusaha membuat desain kartu undangan seindah mungkin dan masih dapat mengakomodir harga yang sehemat mungkin, dan itu pun bukan pekerjaan yang mudah. Jadi sekali lagi, maaf buat kawan-kawan semua jika proses pembuatan kartu undangannya bisa memakan waktu yang cukup lama (lebih dari 2 minggu).

Mudah-mudahan pernikahan kawan-kawan semua dipenuhi keberkahanNya. Barakallahulaka wa baraka’alaika wajama’a bainakuma fii khair.

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Minggu, 30 Maret 2008

b a n g k i t j i n g g a

hai jingga
sore ini kau nampak muram...
memang semuram itukah hatimu?
ada sesuatu yang salah?
apakah jinggamu sudah lelah mewarnai senja?
atau mungkin burung camar mengusilimu lagi?
atau mungkin sore ini langit memang sedang tidak ramah?
atau mungkin lembayung kesayanganmu lusuh basah tersapu lebatnya hujan?


sudahlah, lepaskan beban-bebanmu itu
kembalikan beban-beban itu hanya kepada ALLAH
karena hanya kepadaNya kita pantas mengembalikan itu semua
tenangkan hatimu, jangan biarkan ungu membiru mendominasi wajahmu
ingatkan? sampai kapanpun, hitam :: jingga tetap kombinasi warna terindah yang pernah ada
Maha Suci ALLAH,yang telah Menciptakan hitam :: jingga

ayo jingga,
coba kembangkan lagi senyummu
tegakkan lagi dagumu
hiasi lagi senjaku seperti dulu
bagaimanapun, kau tetap jinggaku yang dulu
bagaimanapun keadaanmu, aku kan tetap mengiringmu

bersama kita wujudkan hitam :: jingga

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Senin, 17 Maret 2008

s en j a . . .

senja warna warni . . . tidak hanya hitam dan jingga

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

bacalah, belajarlah . . .

Pada suatu sore dimana hujan gerimis mengguyur bumi, terjadilah sebuah percakapan menarik dengan seorang sahabat yang isinya kurang lebih :

“ Coba kamu pilih, lebih baik belajar untuk hidup atau hidup untuk belajar?
Kalau kamu memilih belajar untuk hidup, berarti belajar yang kamu lakukan hanya sebatas belajar secara teknis, bahkan mungkin value dari belajarmu hanya cukup dihargai oleh gelar-gelar akademis maupun pengakuan dari orang lain. Setelah belajar dan penghidupan kau peroleh, lantas kau mau apa? Lain halnya kalau kau memilih hidup untuk belajar. Belajar di sini berarti belajar yang tidak dibatasi oleh gelar, tidak dibatasi oleh disiplin ilmu tertentu, tidak dibatasi oleh waktu, dan tidak dibatasi oleh barier-barier yang sebenarnya kamu ciptakan sendiri. Lulus kuliah dan menjadi sarjana bukan berarti menjadi sok pintar lantas berhenti untuk mempelajari hal-hal lain. Berhasil menduduki posisi tertentu dalam sebuah perusahaan, bukan lantas menjadi yang paling wah, dan emoh menerima kritik orang lain. Dimanapun kamu, diposisi apapun kamu, semangat untuk terus belajar adalah salah satu semangat yang bakal terus mendorongmu untuk maju dan progresif. Lifelong learner...”


Okay... great...bahkan ayat pertama yang Allah SWT turunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui perantara Jibril a.s., adalah ayat yang memerintahkan kita untuk membaca dan terus belajar. Islam memang menuntut umatnya untuk menjadi seorang lifelong learner. Wallahua'lam

Iqra', bismirabbikalladzii khalaq . . .
-> Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan
Khalaqal insaana min 'alaq
-> Yang menciptakan manusia dari segumpal darah
Iqra' warabbukal akram
-> Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha Pemurah
Alladzi 'allama bil qalaam
-> Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam
'Allamal insaana maa lam ya'lam
-> Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Minggu, 16 Maret 2008

tiga "K"

Lagi-lagi masih sibuk dalam mempersiapkan pembukaan gerai baru apotek farmakita. Selain, persiapan hardware, dan software, ternyata persiapan brainware apotek baru pun sangat memakan banyak energi. Brainware suatu apotek adalah sang apoteker yang bertugas si dalamnya.


Ketika saya bertanya kepada Bu Kusmeni (Ketua PD-ISFI Jawa Barat) tentang kriteria brainware yang dibutuhkan oleh gerai2 baru yang akan berdiri, maka jawaban beliau adalah : 3K, yaitu komitmen, kemudian konsistensi, dan yang terakhir konsekuensi...

Yang penting komitmen dan memang berniat untuk mengabdikan diri di apotek. Karena habitat asli apoteker ya di apotek. Dengan sebuah komitmen yang tinggi, insya ALLAH yang dipikirkan hanyalah apa sih yang bisa saya perbuat? Tapi bukan apa sih yang bisa saya ambil dan dapatkan... Karena jika kita sudah bisa all-out, reward, atau penghargaan dari orang lain bukanlah tujuan utama...(to be continued)

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Minggu, 24 Februari 2008

Oleh - Oleh dari Pameran . . .




Alhamdulillah, saya (apotek farmakita) baru selesai mengikuti dua kali event Info Franchise Expo 2008, baik di Jakarta dan di Bandung. Berbagai macam pengalaman didapat disana. dari mulai pameran Jakarta : berangkat ke Semanggi - Jakarta sampai kesasar gak tau dimana, mencicipi berbagai macam makanan tester dari berbagai peserta pameran, nginep di hotel yang rada-rada unik, sampai pulang duluan dari ajang expo sebelum acara expo berakhir, demi mengejar calon mitra usaha yang minta lokasinya disurvey, dan Bandung : salah bawa backdrop waktu mempersiapkan stand malem-malem, Bandung dingin banget plus hujan segala, hari kedua expo yang betul-betul sepi, sampai tim support pameran yg menyenangkan.


Tapi ada satu pengalaman lain yang menurut saya lebih berharga dari pengalaman lain, yaitu menjadi frontliner pameran, berhadapan langsung dengan berbagai macam tipe pengunjung pameran. Dalam hal berbicara secara lisan, saya mengakui saya memiliki satu kekurangan, yaitu seringkali saya berbicara terlalu cepat. Justru tugas untuk menjadi penjaga gawang di stand pameran merupakan satu ajang melatih cara berbicara dan berkomunikasi yang baik. Dan memang menyenangkan, bisa berbicara dengan banyak orang yang memiliki beragam motivasi, latar belakang, dan rata-rata mereka orang-orang berduit (investor) yang siap membeli franchise dari para peserta pameran, sehingga terkadang mereka merasa dirinya lebih superior dibanding para penjaga stand.

Dari pengalaman menghadapi berbagai macam orang tersebut, saya berhasil mengelompokkan tipe-tipe pengunjung pameran yang pernah saya hadapi.

1.Tipe I
Tipe ini merupakan pengunjung teladan, dari sejak mengunjungi stand mereka sudah menganggap positif ide yang ditawarkan. Mereka bertanya karena ingin tahu, mereka mengkritik tetapi bukan untuk menjatuhkan, aura diskusinya pun aura positif, dan pembicaraan pun ditutup dengan pengisian form survey yang berarti mereka tertarik untuk bergabung dengan peluang bisnis yang ditawarkan, dilanjutkan dengan jabat tangan penuh kehangatan dan senyum. wahh...
2.Tipe II
Tipe ini merupakan pengunjung yang mmm, gimana ya? Sejak datang ke stand, yang ada hanya kritik-kritik pedas. Semua pertanyaan yang diajukan untuk menjawab pertanyaannya adalah salah. Tipe ini memang gak mau kalah dan pengen selalu dianggap benar. Kalau sudah begini, sebagai penjaga stand paling kita cuman angguk-angguk sambil memuji-muji masukan darinya. Dan kalau sudah begini, biasanya mereka mau juga ngisi form survey, karena selidik punya selidik, ternyata mereka pun tertarik dengan apa yang ditawarkan. Heheh jual mahal ni?
3.Tipe III
Tipe yang ini juga agak-agak menggelikan. Dari awal sampai akhir gelagatnya selalu tidak mengenakkan. Semua apa yang kita sampaikan tidak dia terima. Lha terus sebenarnya siapa sih yang punya bisnisnya? Kan sebenarnya penjaga standlah si pemilik bisnisnya. Dan ternyata setelah serangkaian kritik dan hinaan dilontarkan, dia mengeluarkan kartu namanya, dan ternyata hehehe... dia seorang konsultan. Dia bilang, kalau butuh bantuan konsultan bisnis, saya siap membantu. Ya elaah, jualan juga to ternyata.
4.Tipe IV
Tipe pengunjung yang menyenangkan. Semua diskusi yang digelar disambut dengan respon yang positif dan hangat. Full of smile, tapi sayang diakhir kunjungan, dia menyatakan bahwa di tidak berminat untuk bergabung dengan bisnis yang ditawarkan. Tapi nggak papa, walau tidak tertarik, setidaknya tetap kooperatif ya?
5.Tipe V
Tipe pengunjung yang betul-betul iseng. Pengunjung tipe ini memang tidak punya motivasi khusus untuk begabung dengan apa yang ditawarkan. Komentarnya pun asal, seperti, “Jadi kamu apoteker? Kok gak ada tampang?” hehehe, emang tampang apoteker gimana Bu? “Eh apoteker ya? kok masih muda-muda gini ya?”hehehe(lagi) emang gak boleh ya Bu, anak muda jadi apoteker? dan komentar-komentar iseng lainnya. Tapi bodor (lucu. red) lah, karena yang kaya gini ini memang kadangkala dibutuhkan untuk hiburan bagi yang sedang jaga stand...

Okay, sementar baru ada lima tipe, dan kayanya cukup untuk jadi semacam panduan untuk acara pameran selanjutnya. Karena baru mengikuti dua kali pameran, saya sudah bisa merasakan sensasi the passion of expo... yiihaaa !!! bayangkan saat para pengunjung mendatangi stand-mu dan bertanya-tanya seputar apa yang kamu tawarkan, kemudian mereka tertatik, dan berminat untuk bergabung. Sekali lagi terimakasih banyak untuk tim expo Bandung : Febbi, Achie, Nisa, Vivi, Manik, Fetri, kang Deden, pak Roni, mbak Vanya, dan tentunya Bu Kusmeni dan Pak Jahja...

Sudah dulu, karena tugas follow-up hasil pameran sudah menunggu. btw, kapan pameran lagi ni?

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

Selasa, 19 Februari 2008

t i d a k j a u h . . .

Bu..
Izinkan aku melengkapi kepingan puzzle yang lama tercecer jauh
Karena akhirnya kutemukan kepingan terakhir itu
Sangat dekat, Bu
Karena ternyata tidak jauh
Ada di situ, si tepi jalan yang sering kulalui . . .

17 februari 2008

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)

mamaku super mama??

Makin hari, acara yang mengisi televisi di rumah, makin tidak masuk akal. Salah satu acara yang terus teringat dan tentu saja annoying adalah sebuah acara milik sebuah stasiun televisi swasta yang berdurasi antara 5 – 6 jam, dimulai sejak maghrib dan berakhir sekitar tengah malam. Konten acara tersebut memperlombakan kemampuan para selebritis dalam menarik suaranya. Yah, suara pas-pasan gak papalah yang penting acaranya laku.


Dalam penampilannya, sang selebritis didampingi oleh ibunda tercinta. Dan tidak tanggung-tanggung, ibunda tercinta ikut dikonteskan, dinilai, bahkan kadang seperti terkesan dieksploitasi dan dipermalukan. Waduh… seandainya saya ini selebritis, saya nggak akan tega mengajak ibundaku tersayang untuk mengikuti kontes semacam itu. Ibuku adalah wanita terhormat, yang sangat saya cintai dan sayangi, dan bukan untuk dieksploitasi, ditertawakan, dan dipermalukan di depan penonton senegara. Menurut saya, acara tersebut memang hanya menjual eksploitasi hedonisme tanpa disertai muatan-muatan positif yang minimal bisa diambil manfaatnya. Para host-nya pun bebas berkelakar, saling menghujat, dan kebanyakan tertawa. Awalnya sih terlihat lucu, tapi lama-lama tetap membosankan bahkan terkadang memuakkan… anybody, please… help me out of this !!!

Share/Save/Bookmark (Read More/Dilanjut yuuk)